
Pada Senin ini, harga emas mencapai level terendah dalam tujuh bulan terakhir setelah turun 1% di tengah penguatan dolar AS. Kondisi saat ini kemungkinan menjadi awal kuartal IV 2023 yang terburuk bagi emas.
Sementara itu, dolar AS menguat karena ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama, terlepas dari semua proyeksi positif. Adapun harga emas spot turun 0,9% ke level $1.831,81 per ons. Harga emas menyentuh level terendah dalam tujuh bulan terakhir, sejak 10 Maret.
Kontrak berjangka emas juga turun 1%. Pada saat yang sama, indeks logam mulia naik 0,1% dan bertahan di level tertinggi dalam 10 bulan. Hal ini membantu aset tersebut bersaing dengan para pesaing utamanya. Selain itu, kenaikan tersebut membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.



Pasar mulai menyadari bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama dari perkiraan. Inilah yang sebenarnya menekan harga emas. Sederhananya, aset ini mungkin akan tetap berada di bawah tekanan setidaknya untuk sementara waktu. Para pakar mengatakan harganya mungkin terus turun. Investor dapat melihat harganya turun hingga $1.800 per ons.
Pada akhirnya, harga emas turun tajam (lebih dari 11%) setelah sempat menembus level penting $2.000 per ons pada Mei lalu. Kenaikan tajam imbal hasil Treasury AS acuan memicu penurunan tersebut dan membuat logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini kurang menarik bagi pelaku pasar.
Meski demikian, para trader berharap FED tidak akan menaikkan biaya pinjaman jangka pendek dalam waktu dekat. Investor memperkirakan suku bunga akan tetap di atas 5,25%–5,50%. Saat ini, pidato Ketua FED menjadi fokus utama, bersama data lowongan kerja, nonfarm payrolls AS, dan angka perekrutan sektor swasta, yang menjadi faktor utama untuk menentukan arah harga emas pekan ini.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!